Minggu, 19 April 2015

Kawah Ijen, Jawa Timur

   
Inilah salah satu pesona keindahan alam Indonesia yang luar biasa dan telah memukau banyak wisatawan dari berbagai negara. Di sinilah dapat Anda lihat danau kawah luas yang menakjubkan bersama api berwarna biru dari belerangnya saat malam hari. Selain menjadi tujuan wisata naik gunung, Kawah ijen juga merupakan tempat penambangan belerang tradisional yang hilir-mudik di arena bekas letusan kawah yang sebenarnya masih aktif. Gunung Ijen sendiri berada di kawasan Wisata Kawah Ijen dan Cagar Alam Taman Wisata Ijen di Kecamatan Licin Kabupaten Banyuwangi dan Kecamatan Klobang Kabupaten Bondowoso. Gunung ini berada 2.368 meter di atas permukaan laut dimana puncaknya merupakan rentetan gunung api di Jawa Timur seperti Bromo, Semeru dan Merapi. 


Kawah Ijen merupakan tempat penambangan belerang terbesar di Jawa Timur yang masih menggunakan cara tradisional. Ijen memiliki sumber sublimat belerang yang seakan tidak pernah habis  dimanfaatkan untuk berbagai keperluan industri kimia dan penjernih gula.   Kawah Ijen merupakan salah satu kawah paling asam terbesar di dunia dengan dinding kaldera setinggi 300-500 meter dan luas kawahnya mencapai 5.466 hektar. Kawah di tengah kaldera tersebut merupakan yang terluas di Pulau Jawa dengan ukuran 20 km. Ukuran kawahnya sendiri sekitar 960 meter x 600 meter. Kawah tersebut terletak di kedalaman lebih dari 300 meter di bawah dinding kaldera. Pemandangan Kawah Ijen begitu menakjubkan ketika disinari Matahari pagi dengan memancarkan kemilau hijau toska. Sinaran yang juga menerpa dari balik Gunung Merapi, saudara kembar Gunung Ijen jangan sampai Anda lewatkan untuk diabadikan oleh kamera. Air kawahnya tenang berwarna hijau kebiruan namun Anda tidak diperkenankan menuruninya karena air kawah bervolume sekira 200 juta meter kubik itu panasnya mencapai 200 derajat celcius. 


Derajat keasaman kawah tersebut sangat tinggi mendekati nol sehingga bisa melarutkan pakaian bahkan tubuh manusia dengan cepat. Dini hari pukul 01.00, saat Matahari belum membiaskan pijarnya menguak keindahan danau kawah ini ada keajaiban lain yang dihadirkan Ijen. Di bawah kawahnya berpijar api biru (blue fire) dari cairan belerang yang mengalir tanpa henti untuk dikeringkan oleh angin kemudian menjadi batu dan dicacah para penambang. Bongkahan belerang tersebut kemudian ditempatkan pada dua keranjang kayu dan dipakul menuruni gunung sejauh 3 km. Bukan beban yang ringan sebab berat keranjang pikul tersebut bisa mencapai 100 kg. Di tenggara kawah terdapat lapangan solfatara yang merupakan dinding danau Kawah Ijen. Di bagian barat terdapat Dam Kawah Ijen yang merupakan hulu dari Kali Banyupait. Lapangan solfatara Gunung Kawah Ijen selalu melepaskan gas vulkanik dengan konsentrasi sulfur yang tinggi dan bau gas yang kadang menyengat. Dam Kawah Ijen merupakan bagian dari objek wisata menarik tetapi tidak selalu dikunjungi oleh wisatawan dikarenakan jalan untuk menuju ke sana cukup sulit dan sering rusak karena longsor. Dam Kawah Ijen adalah bangunan beton yang dibangun sejak zaman Belanda dan dimaksudkan untuk mengatur level air danau agar tidak menyebabkan banjir air asam. Tetapi bendungan ini sekarang tidak berfungsi karena air tidak pernah mencapai pintu air akibat terjadinya rembesan air danau di bawah dam.


KEGIATAN
Saat pagi hari, ketika Matahari mulai menyinari kawasan Kawah Ijen, pemandangan indah dapat Anda nikmati. Kawah Ijen yang berwarna hijau kebiruan berpendar oleh cahaya Matahari yang berwarna keemasan memantul di bawah kawah. Saat yang paling tepat untuk menyaksikan keindahan Ijen pada dini hari antara pukul 02.00 hingga 04.00. Saat itu Anda dapat menyaksikan bagaimana pijaran api biru (blue fire) dari bawah kawah. Apabila Anda ingin turun ke bawah kawah untuk melihat api biru maka wajib disertai pemandu. Kenakan masker dan kaca mata pelindung itu karena selain bau belerang yang sangat menyegat, asap belerang dari aktivitas para penambang akan dengan mudah menyerang dan membaut pedih mata. Kawah Ijen dari atas Gunung Ijen terlihat sangat indah. Kawah ini merupakan danau besar berwarna hijau kebiruan dengan kabut dan asap belerang yang sangat memesona. Selain itu, udara dingin dengan suhu 10 derajat celcius, bahkan bisa mencapai suhu 2 derajat celcius, ini jelas akan menambah sensasi tersendiri bagi Anda. Berbagai tanaman yang hanya ada di dataran tinggi juga dapat Anda temukan, seperti bunga edelweis dan cemara gunung. Jalan tanah menanjak dengan ketinggian 2.700 di atas permukaan laut akan Anda lalui dengan berjalan kaki. Perjalanan menuju ke Kawah Ijen akan membuat Anda menghargai kehidupan ini. Para penambang belerang dengan tekun mengangkut belerang dengan beban luar biasa berat apalagi kalau harus diangkut melalui dinding kaldera yang begitu curam menuruni gunung sejauh 3 km.


Berkenalanlah dengan mereka, sapa dan Menyaksikan Penambang Belerang Salah satu yang akan Anda saksikan langsung di Kawah Ijen adalah adanya penambang belerang tradisional. Penambang belerang tradisional ini konon hanya terdapat di Indonesia yaitu di Welirang dan Ijen. Tempat pengambilan belerang terdapat di dasar  kawah sejajar dengan permukaan danau. Mereka dengan berani mendekati danau untuk menggali belerang dengan peralatan sederhana lalu dipikul dengan keranjang. Para penambang belerang ini mengambil belerang dari dasar Kawah Ijen sejauh 3 km. Di tempat tersebut asap cukup tebal namun mereka dengan peralatan penutup hidung sekadarnya tetap mencari lelehan belerang. Sebuah pertaruhan nyawa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Lelehan belerang diperoleh dari pipa yang menuju sumber gas vulkanik mengandung sulfur. Gas ini dialirkan melalui pipa lalu keluar dalam bentuk lelehan belerang berwarna merah. Setelah membeku belerang tersebut akan membeku berwarna kuning. Bekuan belerang inilah yang akan diambil oleh pekerja tambang. Sebelumnya belerang dipotong dengan linggis kemudian langsung diangkut menggunakan keranjang. Setelah belerang dipotong, penambang akan memikulnya melalui jalan setapak. Beban yang dipikul cukup berat antara 80 hingga 100 kg. 


Para penambang sudah terbiasa memikul beban yang berat ini sambil menyusuri jalan setapak di tebing kaldera menuruni gunung sejauh 3 kilometer.  Dalam sehari mereka hanya dibolehkan 2 kali naik-turun kawah. Semua penambang akan berkumpul di bangunan bundar kuno peninggalan Belanda yang dikenal dengan “Pengairan Kawah Ijen” yang sekarang disebut sebagai Pos Bundar. Di sini penambang menimbang muatannya dan mendapatkan secarik kertas tentang berat muatan dan nilainya. Di pos pengumpulan belerang Anda dapat melihat dan merasakan ritual harian penambang belerang. Beberapa dari mereka rehat di keteduhan meregang otot, beberapa yang punya karung mengemas bongkah-bongkah hasil tambangannya. Truk terakhir datang membawa serta pengurus  koperasi. Pengurus mengabsen penambang satu per satu yang dipanggil maju mengangkat pikulannya ke atas penimbang. Angka yang ditunjuk oleh penimbang lalu diubah ke dalam Rupiah yang dibayar sore itu juga. Penghasilan yang diterima seorang penambang belerang dalam sehari tidak sebanding dengan ancaman yang dekat dengan nyawa mereka. Satu orang penambang biasanya hanya mampu membawa satu kali angkut setiap harinya  mengingat beratnya pekerjaan dan jalan yang dilalui. Jangan sungkan, baurkan diri Anda bersama penambang belerang di Kawah Ijen. Meski hidup terasa berat dan keras, mereka tetap ramah dan bercanda, bahkan akan memberi jawaban atas setiap keingintahuan Anda


TRANSPORTASI
Anda dapat mencapai Kawah Ijen melalui dua alternatif rute berikut ini. Pertama, rute dari Banyuwangi menuju Licin yang berjarak 15 km yang dapat dilewati dengan kendaraan bermotor roda dua atau empat selama sekitar 30 menit. Rute ini lebih sulit dilalui karena kondisi jalan yang rusak. Biasanya digunakan oleh para pendaki untuk rute pendakian Gunung Ijen. Rute ditempuh dari Banyuwangi lalu menuju Kecamatan Licin. Dari Licin menuju Paltuding yang berjarak sekitar 18 km perjalanan dapat diteruskan dengan kendaraan bermotor terutama jenis jeep double gardan karena sekitar 6 km sebelum sampai di Paltuding melewati jalan yang dinamakan tanjakan erek-erekyaitu berupa belokan berbentuk S dan sekaligus menanjak, perjalanan memerlukan waktu sekitar satu jam, karena jalanan sering rusak oleh air hujan maupun dilewati truk pengangkut Belerang setiap hari. Dari Patulding Anda tinggal berjalan kaki melewati jalan setapak dan tebing kaldera sejauh 3 kilometer menuju dasar Kawah Ijen. Total jarak tempuh melewati rute ini adalah 38 kilometer. Kedua, rute jalan utara dari Situbondo menuju Sempol (Bondowoso) melalui Wonosari kemudian dilanjutkan ke Paltuding yang dapat dicapai dengan kendaraan bermotor roda dua atau roda empat. Rute ini lebih mudah dilalui karena kondisi jalan yang bagus dan relatif mulus. Rute ini dapat ditempuh dari Bondowoso, lalu menuju Wonosari, lalu ke Sempol dan akhirnya ke Patulding. Jarak Situbondo sampai Paltuding adalah 93 km dan kondisi jalan sampai Paltuding boleh dikatakan sangat bagus sehingga dapat ditempuh dalam waktu sekitar 2,5 jam. Dari Patulding Anda tinggal berjalan kaki melewati jalan setapak dan tebing kaldera sejauh 2 kilometer menuju Kawah Ijen. 


Jarak tempuh melewati rute ini adalah 70 kilometer dengan pemandangan pohon kopi dan hutan pinus yang memesona. Rute dari Bondowoso ini melalui daerah terbatas areal perkebunan kopi dengan tiga pintu gerbang yang berbeda. Di setiap pintu gerbang Anda diminta untuk mengisi buku tamu dan tujuan perjalanan. Pemandangan di rute ini sangat bagus dengan kebun kopi arabikanya yang hijau teratur, hutan pinus Perhutani dan hutan perawan Cagar Alam Ijen-Merapi yang lebat. Kunjungan singkat satu hari dapat dilakukan namun bermalam di perkebunan kopi atau Paltuding  adalah pilihan yang tepat. Tersedia paket agrowisata mengunjungi kebun kopi dan unit pemrosesan biji kopi yang patut Anda pertimbangkan. Anda dapat menuju Bondowoso maupun Banyuwangi dengan transportasi umum dari Surabaya. Jarak dari Surabaya ke Bondowoso maupun Banyuwangi sekira 200 kilometer.  Untuk menuju ke kawah ijen, perjalanan akan melintasi keindahan hutan lindung. Di sepanjang perjalanan menuju ke Kawah Ijen, terlihat para pekerja tambang belerang dalam kendaraan truk pengangkut menuju ke kawah ijen, perjalanan sangat menantang dan tentunya menguras tenaga.  Setibanya di kawasan Paltuding maka ini adalah titik awal menuju ke Kawah Ijen dimana Anda harus berjalan mendaki sekitar 1,5 jam. Paltuding adalah lokasi kaki gunung dengan ketinggian 1.800 m dpl, jadi pastikan Anda membawa baju hangat yang mencukupi.


KULINER
Apabila Anda mengunjungi Kawah Ijen dari Banyuwangi maka di Banyuwangi ada Rujak Soto yang dapat Anda cicipi. Kebanyakan dijual di warung-warung. Warung di depan Stadion Diponegoro Banyuwangi adalah salah satu yang terkenal. Rujak Soto, merupakan paduan Rujak Cingur dan Soto Babat tapi rujaknya berbeda dengan Rujak Cingur Surabaya. Selain tidak memakai cingur perbedaan lain terletak dari petis yang digunakan. Petisnya terasa keset dan lebih nikmat dibandingkan petis biasa. Untuk sotonya, mirip soto Madura tapi hanya menggunakan daging babat saja. Rujak soto ini tak jauh ubahnya seperti rujak yang disiram soto namun diitambah taburan kerupuk mlinjo dan kerupuk udang sehingga menjadikannya makanan nan gurih.


AKOMODASI
Apabila Anda khusus datang untuk manaiki kawah pagi-pagi sekali maka penginapan di Paltuding tersedia 2 wisma milik Departemen Kehutanan yang dapat disewa untuk umum mulai dari harga Rp100.000,00 hingga Rp300.000,00 per malamnya. Perbedaan di antara keduanya hanyalah ada dan tidaknya kamar mandi di dalam kamar. Paltuding merupakan camping ground sehingga pengunjung diizinkan mendirikan tenda. Jadi, berkemah di sini pun bila Anda berminat maka mengapa tidak. Di Paltuding ada 2 warung yang biasanya tutup setelah tengah hari. 1 warung letaknya tidak jauh dari dapur pengolahan belerang. Warung ini sebenarnya untuk melayani para penambang namun kadangkala pengunjung pun makan di sana. Pemiliknya adalah Bapak Im dan beliau sekaligus sebagai seorang pemandu berpengalaman. Di warung ini ada cenderamata yang dapat Anda beli yaitu kaos bergambar Kawah Ijen atau yang istimewa belilah keranjang belerang mini yang terbuat dari bambu diisi dengan serpihan kecil belerang kuning. Benar-benar mirip aslinya. Hiasan dari cetakan khusus berbahan belerang juga tersedia di warung serta Pos Bundar. Apabila Anda memilih penginapan yang ada Banyuwangi maka ada banyak pilihannya. Lokasi hotel ini berdekatan dengan Pelabuhan Katapang Banyuwangi atau di tengah kota. 


TIPS
Untuk menuju bawah Kawah Ijen demi melihat api biru maka wajib menyewa seorang pemandu setempat yang berpengalaman. Mereka hapal pijakan batu yang aman dan waktu serta lokasi terbaik untuk foto. Selain peralatan treking yang ringan dan bekal air minum, jangan lupa membawa sapu tangan basah atau masker penutup hidung yang sangat diperlukan di sini karena seringkali arah angin membawa asap menuju ke jalur penurunan.  Tanpa masker, di sekitar lokasi penambangan maka Anda akan selalu dipaksa memunggungi kawah. Apabila mata Anda terkena asap belerang dan terasa pedih maka usahakan tidak menggosoknya karena dapat membuat iritasi meski tidak berbahaya. Cukup biarkan tahan saja beberapa saat sembari menghindar ke balik bebatuan. Demi alasan keamanan, pendakian dari Paltuding ditutup selepas pukul 14.00 karena pekatnya asap dan kemungkinan arah angin yang mengarah ke jalur pendakian. Idealnya pendakian dilakukan pagi  hari sebelum belerang naik. 


Jika mendaki di atas pukul 10.00 maka kecil kemungkinan bisa melihat kawah secara utuh. Barang sebentar asap membekap sebelum akhirnya terusir angin dan sebagian kawah tersingkap. Begitulah hal tersebut berulang terjadi. Apabila Anda berniat berpetualang lebih jauh maka dapat mengelilingi kaldera di kawasan ini tetapi persiapkan fisik dan perlengkapan trekking yang lengkap karena perjalanan memakan waktu mencapai 8 hingga 10 jam berjalan kaki. Taatilah rambu-rambu demi keselamatan Anda, terutama untuk tidak turun ke pinggiran kawah karena keselamatan menjadi tanggung jawab Anda sendiri. Apabila Anda ingin memfoto para penambang belereng di sekitar kawah atau saat pendakian maka jangan mengarahkan kamera langsung ke wajah. Kalaupun ingin mengambil foto close up maka sebaiknya lakukan dari jarak jauh dengan lensa tele. Tidak ada salahnya Anda menyediakan sebungkus rokok atau kembang gula untuk media pergaulan saat berbaur dengan penambang tersebut.

Sabtu, 18 April 2015

Candi Singosari, Jawa Timur


Tidak banyak sisa-sisa Kerajaan Singosari yang pernah berkuasa abad 13 di Jawa Timur. Hanya ada sebuah candi yang belum selesai dibangun dan dua patung raksasa yang berdiri menjaga di depan istana sebagai jejak yang tersisa dari salah satu kerajaan besar di Nusantara ini. Candi Singosari disebut masyarakat setempat sebagai Candi Cungkup, awalnya sempat dinamakan juga candi Renggo, Candi Menara, dan Candi Cella. Untuk sebutan yang terakhir karena candi ini memiliki celah sebanyak 4 buah di bagian tubuh candi. Hingga kini nama yang lebih dikenal adalah Candi Singosari karena letaknya di Singosari. Banyak yang menganggap bahwa Candi Singosari adalah makam Raja Kertanegara sebagai raja terakhir Singosari. Akan tetapi pendapat ini diragukan banyak ahli, lebih dimungkinkan Candi Singosari merupakan tempat pemujaan Dewa Siwa karena sistem mandala yang berkonsep candi Hindu dan sekaligus sebagai media pengubah dari  air biasa menjadi air suci (amerta). Candi Singosari awalnya disebut dalam sebuah laporan kepurbakalaan tahun 1803 oleh Nicolaus Engelhard, seorang Gubernur Pantai Timur Laut Jawa. 


Ia melaporkan tentang reruntuhan candi di daerah dataran tandus di Malang. Tahun 1901 Komisi Arkeologi Belanda melakukan pennelitian ulang dan penggalian. Berikutnya 1934 Departemen Survey Arkeologi Hindia Belanda Timur merestorasi bangunan ini hingga selesainya tahun 1937. Anda dapat melihat goresan tanda penyelesaian pemugaran ini pada batu kaki candi di sudut barat daya. Saat ini banyak arca-arca dari reruntuhan Candi Singosari disimpan di Museum Leiden Belanda. Ada informasi yang mencukupi dapat diketahui tentang Singosari dari teks Jawa kuno abad ke-14 yaitu “Pararaton” atau kitab raja. Candi Singosari yang dibangun tahun 1304 ini umumnya dihiasi dari bawah hingga atasnya. Bila Anda perhatikan hiasan tersebut tidak seluruhnya terselesaikan sehingga ada dugaan candi ini dalam proses pembangunan yang belum selesai kemudian ditinggalkan. Dimungkinkan akibat adanya peperangan yaitu serangan Kerajaan Gelang-Gelang pimpinan Jayakatwang tahun 1292 hingga menghancurkan Kerajaan Singosari, sering disebut juga masa kehancuran Singosari atau pralaya. Kerajaan Singosari didirikan tahun 1222 oleh seorang rakyat biasa bernama Ken Arok, yang berhasil menikahi putri cantik Ken Dedes dari Janggala setelah membunuh suaminya. 


Ken Arok kemudian menyerang Kediri dan berhasil menyatukan dua wilayah terbelah yang pernah dipisahkan oleh Raja Airlangga tahun 1049 sebagai warisan untuk kedua putranya. Singosari kemudian berhasil mengembangkan pertanian yang subur di sepanjang aliran sungai Brantas, serta perdagangan laut yang menguntungkan di sepanjang Laut Jawa. Pada 1275 dan 1291 Raja Singosari yaitu Kertanegara menyerang kerajaan maritim Sriwijaya di Sumatera Selatan dan kemudian mengontrol perdagangan laut di laut Jawa dan Sumatera.  Dalam masa kejayaannya, Singosari begitu kuat, bahkan Kaisar Mongol Kubilai Khan yang perkasa menganggap penting mengirim armada dan utusan khusus ke kerajaan Singosari untuk menuntut Raja Kertanegara secara pribadi  untuk memberikan loyalitas kepada Mongol. Sebagai jawabannya, ternyata Raja Kertanegara memotong telinga salah satu utusan tersebut sebagai pesan kepada Kubilai Khan bahwa Singosari tidak akan tunduk. Kemudian Kertanegara dibunuh oleh salah seorang raja bawahannya yaitu Jayakatwang tahun 1293. Ketika armada perang dikirim oleh Kubilai Khan tiba di Jawa, mereka tidak mengetahui bahwa rupanya Raja Kertanegara sudah tiada. Menantu Kertanegara, Raden Wijaya, berhasil membujuk armada Kublai Khan untuk membunuh Jayakatwang, tetapi kemudian justru berbalik mengusir armada Mongol dari Jawa. Raden Wijaya selanjutnya mendirikan kerajaan Majapahit tahun 1294 di utara Singosari yaitu di Porong. Maka berlangsunglah sebuah masa keemasan bagi sebuah kerajaan bernama Majapahit yang kekuasaannya mencakup Indonesia saat ini dan bahkan hingga ke Malaysia dan Thailand.


KEGIATAN
Sisa-sisa candi Singosari yang belum selesai dibangun itu dapat Anda lihat di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari. Candi ini terbuat dari batu andesit dengan bangunan yang menghadap ke barat. Di halaman depan terdapat kumpulan patung, sementara di bawah terdapat dua patung besar wali yang dikenal sebagai Dwarapala. Candi Singosari  terdiri dari 4 bagian utama. Bagian bawah berupa persegi empat yang dinamakan batur candi atau teras. Kaki candi yang tinggi sekaligus sebagai ruangan tempat arca. Tubuh candi yang langsing dengan empat relung di masing-masing sisinya. Atap atau puncak yang menjulang makin mengecil di puncaknya. Dalam  agama Hindu, kaki candi (bhurloka) merupakan gambaran dari kaki gunung atau alam manusia, badan candi (bwahloka) sebagai lereng gunung atau alam langit, dan atap candi (swahloka) sebagai puncak gunung atau alam khayangan-surgawi. 


Puncaknya ini berbentuk limas dengan atap pejal berbentuk kubus, begitu pula keempat puncak lain yang mengelilinginya sudah runtuh. Apa yang akan Anda saksikan saat ini adalah sebuah candi yang terkesan ramping menjulang bagian atasnya dan gamuk di bagian bawahnya. Candi Singosari merupakan tiruan Gunung Meru yang berpuncak di Kaliasa dan dikelilingi empat puncak yaitu Gunung Mandara, Gunung Gandhamana, Gunung Vipula, dan Gunung Supasrsya. Anehnya di Jawa antara Gunung Meru dan Gunung Mandara tidaklah dibedakan, Gunung Meru itu gunung Mandara dan Gunung Mandara ya Gunung Meru. Candi Singosari juga merupakan simbolisasi konsep Samodramanthana yaitu pengadukan lautan susu dengan menggunakan Gunung Mandara sebagai antan hingga keluarlah air suci atau amerta. Selain itu Candi Singosari juga merupakan simbolisasi dari Lingga dan Yoni dimana  terlihat dari terasnya yang memilki cerat pada sisi yoni dan candinya sebagai lingga. Awalnya sejak 1803-1939 Candi Singosari merupakan komplek percandian yang luas dengan 7 buah reruntuhan candi hingga terakhir yang selamat hanya 1 yaitu Candi Singosari ini. 


Saat Anda mengunjungi sisi halaman candi maka akan nampak sisa-sisa reruntuhan dan arca yang sebenarnya itu salah satu dari 7 reruntuhan candi sebelumnya. Saat ini di Candi Singosari dirawat dan dijaga oleh 3 orang staf dari Suaka Purbakala Jawa Timur yang diambil dari penduduk setempat. Candi lain yang dibangun selama era Singosari adalah Candi Jago dibangun tahun 1268 di desa Tumpang, 6 km selatan kota Singosari sekarang. Candi ini didedikasikan untuk raja Singosari ke 4 Visnusardahana, sedangkan Candi Kidal, 11 km di sepanjang jalan yang sama, dibangun tahun 1260 dihiasi yang burung Garuda.  Candi Kidal didedikasikan untuk raja Singosari ke 2, Anusapati. Sebuah patung asli dari raja Kertanegara masih berdiri di pusat kota Surabaya, yang dikenal sebagai Joko Dolog, atau Anak laki-laki Gemuk. Candi Jawi yang indah, dengan latar belakang gunung Penanggungan dibangun pada masa pemerintahan Singosari. Hal ini diyakini sebagai candi pemakaman dari kelima raja terakhir. Dibangun abad ke-13 dan didedikasikan untuk dewa dewa Hindu Siwa dengan Sang Buddha. Candi Jawi terletak 40 km. selatan Surabaya, Prigen di jalan ke Tretes.


TRANSPORTASI
Candi Singosari terletak di Jalan Kertanegara Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Dari Kota Malang maka Anda dapat mencapainya sejauh kurang lebih 10 km ke arah utara. Sementara dari Surabaya kurang lebih berjarak 88 km ke arah selatan. Untuk menuju Singosari dapat ditempuh dengan mobil atau taksi baik dari Malang maupun dari Surabaya atau Tretes. Taksi dan mobil dapat dengan mudah diperoleh di kota-kota tersebut. Sebagai kota tersibuk kedua di Indonesia, Surabaya dilayani oleh maskapai penerbangan domestik dan internasional.

Kamis, 16 April 2015

Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan, Kalimantan Utara

  
Tidak selamanya kawasan konservasi fauna berada di pedalaman ataupun area-area terpencil yang sulit di akses. Apa yang dimiliki Tarakan begitu mengagumkan karena membuat secuil dari wilayah pusat kota menjadi Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB). Kawasan ini berada di sepanjang Jalan Gajah Mada sekira 1 kilometer dari pusat kota. Bekantan, si monyet berhidung panjang dan besar ini merupakan penghuni utama hutan tersebut. Asal hewan endemik dari Kalimantan ini dihiasi bulu-bulu berwarna cokelat kemerahan dan sering juga disebut sebagai monyet Arborial Old World. Karena mereka tergolong primata yang tidak agresif, banyak tangan-tangan manusia yang memburunya sehingga bekantan kini termasuk dalam daftar merah spesies yang terancam punah di International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). Habitat asli bekantan tersebar di sejumlah wilayah di Kalimantan seperti Taman Nasional Danau Sentarum, Taman Nasional Gunung Palung, Taman Nasional Tanjung Puting dan Taman Nasional Kutai.


Seperti halnya primata lain yang hidup berkelompok, kawanan bekantan juga memiliki pejantan dominan yang ditakuti oleh anggota kelompoknya. Di KKMB ketua kelompok tersebut diberi nama John dan jumlah anggotanya hingga 35 ekor. Jumlah kelompok yang begitu banyak karena biasanya satu ekor bekantan hanya mampu memimpin 19 anggota. KKMB diresmikan oleh Walikota pertama Tarakan yaitu Jusuf SK. Ia yang memutuskan bahwa kota ini perlu memiliki hutan lindung magrove seluas 9 hektar. Pada awalnya hanya ada dua ekor bekantan yang tinggal, tapi kemudian berkembang biak menjadi 35 ekor yang terdiri dari bekantan dewasa, bekantan muda dan bayi bekantan. Walaupun bekantan tergolong pemalu, tapi di KKMB Anda bisa dengan mudah mengambil gambar karena mereka tidak pergi begitu saja. Jarak terdekat yang bisa Anda miliki adalah sekira 5 meter dari para bekantan. 


Primata ini juga tergolong unik karena makanan pokoknya bukanlah pisang seperti yang kerap dilahap primata lain. Bekantan menyukai daun bakau dan buah-buahan, inilah sebabnya mengapa mereka sulit dijauhkan dari hutan bakau. Selain menciptakan lingkungan yang ramah lingkungan, taman juga berfungsi sebagai pusat pendidikan ekowisata untuk anak-anak dan orang dewasa. Keindahan lain hutan bakau terjadi ketika fenomena air pasang surut. Anda dapat melihat pucuk pohon menjuntai sampai ke akar-akar tunjang dan menyentuh lumpur, sementara itu bekantan bermain di antara pohon sambil mencari ikan dan kepiting. Surutnya air akan menghasilkan gundukan tanah tempat berkumpulnya kepiting dengan bermacam spesies. Ketika air pasang setinggi 60 cm dari dasar pantai, Anda bisa melihat ular-ular laut berenang, ikan julung-julung dan berbagai biota laut lainnya. Bahkan pernah terlihat kawanan berang-berang laut yang jumlahnya kadang mencapai ratusan berimigrasi dari laut ke KKMB


KEGIATAN
Inilah tempat yang tepat untuk mengabadikan lucunya perilaku bekantan. Jika pada umumnya bekantan akan bersembunyi saat melihat manusia, tidak dengan di KKMB. Walaupun letaknya di pinggir jalan raya, pengunjung bebas menikmati para bekantan yang sedang bermain dari pohon ke pohon. Tersedia semacam trotoar dari kayu ulin yang diperuntukkan nagi pengunjung KKMB agar dapat mengamati perilaku bekantan yang sedang makan. Trotoar cukup lebar antara 1,5 sampai 2 meter. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pukul 11.00-14.00 WITA saat mereka turun dari hutan untuk menikmati makanan tambahan seperti pisang, yang didapat dari polisi kehutanan. Pihak pengelola juga menyediakan menara pengamat setinggi 16 meter dengan kapasitas sekitar 10 orang dan terbuat dari kayu ulin. Pengunjung dapat melihat keindahan KKMB dari atas, bersamaan dengan panorama pesisir laut dan sebagian sudut Kota Tarakan. KKMB terbuka untuk umum pukul 09.00-17.00, biaya masuknya  seharga Rp3 ribu per orang.


KULINER
Belum mengunjungi Tarakan jika belum merasakan nikmatnya makanan laut kota ini. Hidangan yang paling terkenal adalah kepiting soka yang merupakan kepiting bercangkang lembut sehingga setiap bagian tubuhnya memungkinkan untuk dimakan. Kerang kapah merupakan menu lain yang patut dicoba. Disajikannya dengan cara direbus kemudian diadu dengan sambal khas Tarakan yang menggugah selera. Hampir seluruh rumah makan di pesisir Tarakan menyediakan kapah, baik yang sudah matang maupun yang masih mentah untuk dibawa pulang.


TRANSPORTASI
Bandara Internasional Juwata di Tarakan melayani penerbangan dari Jakarta, Surabaya, Makassar, Banjarmasin, Balikpapan, Malinau, Tanjung Selor, serta Tawau dan Kota Kinabalu (Malaysia). Maskapai yang beroperasi antara lain Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya Air, Susi Air, Kalstar Aviation, dan Maswings. Dari bandara terdapat taksi resmi yang dapat mengantar Anda berkeliling Kota Tarakan, termasuk ke Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan. Untuk transportasi laut, kota ini memiliki 4 pelabuhan yaitu Tengkayu Pelabuhan I, Tengkayu Pelabuhan II, Pelabuhan Malundung, dan Pelabuhan Laut Juwata. Melalui jalur laut, Tarakan dihubungkan dengan Kota Tawau, Sabah, Malaysia dan Pulau Jawa serta Sulawesi.


BERBELANJA
Pasar Oleh-Oleh di Pelabuhan Teng Kayu dapat dijadikan destinasi terakhir saat berkunjung di Tarakan. Masih tetap istimewa dengan makanan lautnya, kali ini Tarakan menyajikan beraneka macam kerupuk hasil olahan laut, kerupuk ikan asin salah satunya.

AKOMODASI
Karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Banjarmasin, Anda bisa mencari hotel dan penginapan di Banjarmasin. Berikut ini beberapa referensi hotel yang ada di Banjarmasin.

Rabu, 15 April 2015

Bumi Cempaka, Kalimantan Selatan


Di bumiku nang sugih kaya, Basambunyian batu mulia, Wadah basimpan di dalam bumi, Jadi idaman saluruh nageri, Galuh basimpan di dalam bumi, Batu mulia si galuh sari, Handak 'ku ambil di dalam bumi, Ambili galuh di bumi partiwi. Demikian penggalan lirik lagu berbahasa Banjar berjudul ”Galuh Cempaka” yang diciptakan M. Thamrin untuk melukiskan kekayaan perut Bumi di Kecamatan Cempaka, di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Batu mulia, tepatnya intan (biasa disebut galuh oleh penduduk lokal), adalah salah satu kekayaan yang dimaksud di lagu tersebut. Berjarak sekira 47 km dari Banjarmasin, Ibu kota Kalimantan Selatan atau sekira 7 km dari pusat kota Banjarbaru, Kecamatan Cempaka sejak dulu terkenal sebagai lokasi pendulangan intan dan emas dengan cara tradisional. Lokasi mendulang ini kebanyakan berada di Sungai Tiung dengan dua titik yang paling terkenal, yakni Pumpung dan Ujung Murung. 


Di lokasi pendulangan, Anda dapat melihat bagaimana para pendulang masih menggunakan cara tradisional untuk menyisihkan batu mulia dari pasir atau lumpur sungai. Lokasi yang menjadi tempat mendulang bisa mencapai kedalaman 15 meter. Para pendulang bisa menghabiskan waktu seharian di sana dengan mengandalkan alat yang disebut linggangan, berbentuk kerucut seperti caping terbalik dan terbuat dari kayu. Untuk mengambil air dan mencuci hasil temuan digunakan pompa air listrik. Pendulang biasanya bekerja dalam kelompok terdiri dari dari 10 sampai 15 orang. Yang menarik adalah adanya tabu tertentu menurut kepercayaan masyarakat lokal dalam mendulang intan di Cempaka, yaitu tabu bagi mereka menyebutkan kata "intan" atau berlian.  Penyebutan kata intan atau berlian dipercaya akan mendorong batu mulia pergi. Oleh karenanya, mereka menyebutnya dengan sebutan "galuh".


Intan Trisakti
Cempaka pernah menarik perhatiaan dunia pada 26 Agustus 1965. Kala itu, intan dengan kualitas unggul seberat 166,75 karat ditemukan di Cempaka oleh kelompok  pendulang yang diketuai H. Madsalam. Ukurannya konon hampir seukuran telur burung merpati. Oleh Presiden Soekarno, berlian itu diberi nama Trisakti. Nilai batu mulia tersohor itu kala itu, menurut Tajuddin Noor Ganie, penulis buku “Tragedi Intan Trisakti”, ditaksir mencapai Rp10 triliun bahkan kian melambung setelah diasah. Para penemunya yang berjumlah 43 orang mendapat ganti senilai Rp3,5 miliar. Namun, karena ada sanering (perubahan nilai uang dari Rp 1.000 menjadi Rp 1), nilai uang yang diterima menjadi Rp3,5 juta. Dengan sejumlah uang tersebut, para pendulang, keluarganya, dan pihak lain yang terlibat dalam penemuan Trisakti mampu membiayai pergi naik haji (dengan total 80 orang). Sayangnya, intan berharga tersebut kini tidak diketahui keberadaannya. Beberapa orang percaya bahwa Trisakti ada di salah satu museum di Belanda. Meski ada ditemukan intan berukuran lebih besar dari Trisakti di Cempaka tapi tetap tak bisa mengalahkan kesohoran Trisakti. Intan terbesar tersebut memiliki berat 200 karat, diberi nama Putri Malu yang ditemukan tepatnya di Antaruku, Kecamatan Pengaron, pada 2008 lalu. Pernah pula diketemukan Galuh Cempaka 5 seberat 106,7 karat pada 1850. Galuh Pumpung dengan bobot 98 karat tercatat ditemukan pada 1990. Cempaka dinobatkan sebagai tempat wisata sejak tahun 1990-an, dan menarik perhatian baik wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Selain bisa melihat aktivitas pendulangan di lokasi tersebut,  wisatawan bahkan bisa membeli langsung hasil mendulang berupa intan mentah. Apabila ingin melihat lebih banyak varian intan atau membeli intan yang sudah diolah maka Anda dapat pergi ke Pasar Permata Cahaya Bumi Selamat di Kota Martapura yang hanya berjarak sekira 5 kilometer dari Cempaka.  Tidak ada catatan resmi yang mengungkapkan kapan pendulangan intan dimulai di Cempaka. Beberapa menyebutkan bahwa aktivitas pendulangan sudah dimulai sejak zaman Kolonial Belanda yang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi. Versi lain menyatakan bahwa intan dan batu mulia lainnya telah ditambang di Cempak sejak awal abad ke-9.


TRANSPORTASI
Dari Banjarmasin, untuk mencapai Cempaka yang luas wilayahnya 146,7 km², Anda harus terlebih dulu menuju Banjarbaru. Jarak tempuh menuju Banjarbaru adalah sekira  satu jam perjalanan. Dari pusat kota Banjarbaru dibutuhkan waktu sekira 15 menit berkendara untuk sampai ke lokasi pendulangan. Cara terbaik adalah dengan menyewa mobil atau memilih paket wisata bersama pemandu. Akan tetapi, Anda juga dapat mengandalkan angkutan umum dari Banjarmasin ke Banjarbaru dan menuju ke lokasi mendulang di Cempaka.


AKOMODASI
Mengingat Bumi Cempaka dekat dengan ibu kota provinsi (1 jam perjalanan) maka untuk mendapatkan pilihan akomodasi yang lebih memadai, Anda bisa memilih untuk menginap di Banjarmasin.

Sungai Mahakam, Kalimantan Timur


Sungai Mahakam adalah sungai terbesar di provinsi Kalimantan Timur. Sungai ini mengalir sepanjang 920 km dari Kutai Barat sampai Kutai Kartanegara dan Samarinda. Mahakam sangat penting bagi sebagian besar penduduk di provinsi ini dan beberapa daerah yang hanya dapat diakses melalui sungai. Transportasi barang juga bergantung pada aliran sunga ini.


TRANSPORTASI
Dari bandara Sepinggan di Balikpapan, yang merupakan pintu masuk ke Kalimantan Timur, Anda bisa menggunakan transportasi darat atau udara ke Samarinda. Beberapa pesawat menyediakan rute lokal dari Balikpapan ke Samarinda. Anda juga dapat naik taksi ke Samarinda selama 2,5 sampai 3 jam. Jika Anda menggunakan transportasi darat, Anda akan kagum dengan keindahan sungai Mahakam di daerah yang disebut Samarinda Seberang. Anda dapat melihat kesibukan di sungai di pusat kota Samarinda.


KEGIATAN
Ketika bepergian di sepanjang sungai, Anda akan menemukan berbagai kegiatan hidup yang dilakukan oleh masyarakat lokal yang tinggal di sepanjang pesisir sungai misalnya, pengangkutan barang dan sumber daya alam antar pulau, memancing dan berjualan ikan. Di Samarinda, pesisir sungai Mahakam digunakan sebagai tempat bersantai oleh masyarakat setempat, terutama dari sore hingga malam hari. Pada sore hari, pedagang berderet manis menjual berbagai jenis makanan dan minuman di sepanjang sungai. Warga biasanya menyaksikan matahari tenggelam sambil menikmati jagung bakar, roti dan lain-lain. Pesisir ini akan semakin ramai di malam hari. Pulau Kumala terletak di tengah sungai. Pulau ini adalah obyek wisata terkemuka di Kabupaten Kutai Kartanegara. Anda bisa menikmati menara langit, bumper mobil, mobil wisata dan atraksi lainya.


BERKELILING
Sungai Mahakam mengalir melalui tiga wilayah yaitu Kutai Kartanegara, kabupaten Kutai Barat dan kota Samarinda. Sebagian besar dataranya  hanya dapat diakses oleh ketinting, perahu motor, atau taksi air (kapal). Beberapa daerah di dekat sungai juga dapat diakses melalui angkutan darat. Anda dapat menggunakan kendaraan bermotor untuk bepergian di sepanjang sungai melewati kota Samarinda. Anda juga bisa berjalan di sepanjang pesisir sungai untuk menikmati pemandangan kota.

Senin, 13 April 2015

Pasar Terapung Muara Kuin, Kalimantan Selatan




 
  
Pasar terapung merupakan tempat dimana Anda akan menyaksikan atau beraktivitas langsung di pasar sungai menggunakan perahu. Pasar terapung ini berlokasi di Banjarmasin tepatnya di persimpangan Sungai Kuin dan Sungai Barito. Pasar terapung di Banjarmasin merupakan refleksi budaya orang Banjar yang telah berlangsung sejak dahulu. Di Kalimantan Selatan ada ratusan sungai menjadi jalur transportasi penting hingga sekarang. Tempat wisata pun bertumpu pada sungai, seperti pasar terapung Muara Kuin di Kota Banjarmasin ini. Saat Matahari terbit kunjungilah pasar ini yang memantulkan cahaya pagi hari di antara transaksi sayur-mayur dan hasil kebun dari kampung-kampung sepanjang aliran sungai Barito dan anak-anak sungainya. Pasar Terapung Muara Kuin adalah pasar terapung tradisional yang berada di atas sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. 


Para pedagang dan pembeli menggunakan jukung, sebutan perahu dalam bahasa Banjar. Pasar ini mulai setelah salat Subuh sampai selepas pukul 9 pagi.  Keistimewaan di pasar ini adalah masih seringnya terjadi transaksi barter antar para pedagang berperahu yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk. Para pedagang wanita (dukuh) yang berperahu menjual hasil produksinya sendiri, sedangkan tangan kedua yang membeli dari para dukuh untuk dijual kembali disebut panyambangan. Banjarmasin sebagai ibu kota propinsi adalah pusat perdagangan dan pariwisata. Kota Banjarmasin mendapat julukan Kota Air karena letak daratannya beberapa senti meter di bawah permukaan air laut. Kota Banjarmasin, memiliki luas sekitar 72 km per segi atau sekitar 0,22 persen luas wilayah Kalimantan Selatan. Kota ini dibelah oleh sungai Martapura memberikan ciri khas tersendiri terhadap kehidupan masyarakatnya terutama pemanfaatan sungai sebagai sarana transportasi air, perdagangan dan pariwisata. Selain pasar terapung di Muara Kuin Banjarmasin, pasar terapung lainnya yang dapat Anda temui adalah di Lok Baintan yang berada di atas Sungai Martapura. Pada tahun 1526 Sultan Suriansyah mendirikan kerajaan di tepi sungai Kuin dan Barito yang kemudian menjadi cikal bakal kota Banjarmasin. 


Di tepian sungai inilah awalnya berlangsung pusat perdagangan tradisional berkembang. Pedagangnya menggunakan perahu kecil yang terbuat dari kayu. Para pedagang ini kebanyakan adalah perempuan yang mengenakan pakaian tanggui dan caping lebar khas Banjar yang terbuat dari daun rumbia. Pasar terapung di muara Sungai Kuin-Barito dapat ditempuh melalui dua rute. Rute pertama, dari Kota Banjarmasin dengan menggunakan angkutan darat yang hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Sedangkan, rute kedua dengan menggunakan perahu motor yang disebut kelotok. Harga sewa dari sebuah kelotok berkisar antara Rp50.000,00 hingga Rp70.000,00, tergantung dari jumlah penumpang. Apabila menggunakan perahu kelotok, dari Kota Banjarmasin menuju ke pasar Muara Kuin memakan waktu sekitar 1 jam. Pasar Terapung ini bisa ditempuh melalui darat dengan menyusuri Jalan Veteran ke arah luar kota. Kemudian terus sampai ujung dengan mengikuti petunjuk di pinggir jalan. Jalur darat ini sedikit jauh dan serasa berada di pelosok karena dari jalan yang beraspal mulus nanti Anda akan melewati jalanan sawah dan sungai tidak beraspal sepanjang sekitar 2 km. Di Kota Banjarmasin tepatnya di sepanjang Jalan A. Yani Km 14, Anda cobalah cicipi kuliner khas Banjar antara lain soto banjar, ketupat kandangan, kelelepon martapura ataupun nasi itik gambut. Nasi itik gambut ini memiliki cita rasa sendiri yang sangat lembut. 


Bahan-bahan yang digunakan adalah bahan dan bumbu dengan kualitas nomor satu. Nasi bebek gambut ini dapat ditemui dengan mudah dari Bandara Syamsudin Noor  ke Gambut. Pada pagi hari di Banjarmasin banyak dijual nasi kuning dengan bervariatif mulai dari 2 ribu sampai 5 ribu rupiah tergantung lauknya. Nasi kuning ini biasanya dijual dalam bungkusan daun pisang, lauknya bermacam-macam mulai dari Ikan gabus, telor, hati, ayam, itik sampai daging sapi, dimasak dengan masak merah atau disebut masak habang. Sempatkan perjalanan Anda mampir kemari dan rasakan suasana pasar terapung ini. Anda dapat melihat beragam jenis barang dagangan seperti sayur mayur, buah-buahan, ikan segar, hasil kebun, hingga kuliner dan kudapan. Anda bisa menyewa perahu jukung yang banyak berada di tepian sungai. Ongkos sewanya Rp60.000,00 Anda bisa mengitari sungai atau ikut bertransaksi. Dapat juga menggunakan perahu motor air atau kelotok dengan harga sewa berkisar Rp50.000,00-Rp70.000,00 tergantung dari jumlah penumpang. Selain pasar terapung, cobalah juga kunjungi Cempaka, yaitu kawasan penambangan intan dan emas, sekitar 47 km dari Banjarmasin. Di tempat ini tahun 1965 pernah ditemukan intan seberat 166,67 karat yang dinamai Intan Trisakti. Hasil penambangan intan biasanya diperjualbelikan di kota Martapura. Selain itu ada juga Pantai Swarangan dan Pantai Batu Lima di Kabupaten Tanah Laut. Di pedalaman, di Kabupaten Hulu Sungai Selatan ada Air terjun Haratai, Air Terjun Riam Anai, Air Terjun Kilat Api, Air Panas Tanuhi, dan hutan wisata Loksado. Kata “Sasirangan” berasal dari kata “sirang” yang berarti diikat atau dijahit dengan tangan dan ditarik benangnya atau dalam istilah bahasa jahit menjahit dismoke/dijelujur. Kain sasirangan dibuat dengan memakai bahan kain mori, polyester yang dijahit dengan cara tertentu. Kemudian disapu dengan bermacam-macam warna yang diinginkan, sehingga menghasilkan suatu bahan busana yang bercorak aneka warna dengan garis-garis atau motif yang menawan. Nah, jadi jangan lewatkan untuk membelinya sebagai oleh-oleh.



TIPS
Karena di pasar terapung ini penjualnya menggunakan klotok maka pasarnya akan mengikuti arus yang ke bawah. Apabila Anda ingin mengabadikan suasana pasar ini dengan foto maka sebaiknya sudah di lokasi pukul 7 pagi untuk mendapatkan suasana keramaian pasar.


TRANSPORTASI
Akses menuju Kalimantan Selatan melalui Bandar Udara Syamsuddin Noor di Banjarmasin. Sudah ada rute dari Banjarmasin antara lain keJakartaSurabaya dan Yogyakarta.

KULINER
Keunikan kuliner di pasar terapung selain para pedagang sayuran dan buahan yang menjual barang dagangannya di atas jukung, juga terdapat warung makan yang juga terapung. Soto Banjar ini merupakan makanan khas dari Banjarmasin yang makannya tidak dengan nasi melainkan dengan lontong. Nikmatilah soto banjar ini di atas perahu sambil melihat hilir mudik kapal dan perahu. Sotonya sendiri selain ada lontong dan kuah juga dilengkapi irisan-irisan daging ayam dan bihun dan tentunya es teh manisnya. 


KEGIATAN
Anda dapat menikmati panorama pasar terapung beserta kehidupan masyarakatnya yang tinggal di sepanjang tepian sungai dengan suasana pedesaan khas Banjar. Datanglah pagi-pagi sekali untuk melihat kesibukannya sehingga menjadi pengalaman tersendiri. Pasar Terapung Muara Kuin berada di muara sungai Kuin dengan Sungai Barito dan mulai berdegup kegiatannya selepas Subuh hingga sekitar pukul 9 pagi. Di sini, pedagang dan pembeli menggunakan perahu yang disebutjukung atau perahu motor air yang disebut kelotok. 


BERKELILING
Untuk dapat berkeliling menikmati pasar apung, Anda juga dapat menyewa sebuah perahu motor air yang disebut kelotok. Harga sewa dari sebuah Kelotok berkisar antara Rp50.000,00 hingga Rp70.000,00 tergantung dari jumlah penumpang. Dengan menggunakan perahu kelotok Anda dapat melihat budaya masyarakat Banjar yang menjual sayur mayur, kue-kue, makanan dan minuman khas Banjarmasin, seperti soto banjar pun bisa dinikmati dari atas perahu atau kelotok, bisa langsung bertransaksi dari perahu ke perahu. 


BERBELANJA
Jelas tema wisata di sini adalah berbelanja dan menghirup suasana tradisional berdagang. Ada banyak barang dagangan dapat Anda beli di sini. Salah satu yang dapat Anda beli adalah kain sasirangan sebagai kerajinan khas Kalimantan Selatan. Kain sasirangan ini dulunya digunakan sebagai ikat kepala (laung), juga sebagai sabuk yang dipakai lelaki atau sebagai selendang,  kerudung, juga udat (kemben)wanita. Kain ini juga sebagai pakaian adat dipakai pada upacara-upacara adat, bahkan digunakan pada pengobatan orang sakit. Saat ini, kain sasirangan peruntukannya tidak lagi untuk spiritual sudah menjadi pakaian untuk kegiatan sehari-hari dan merupakan ciri khas sandang dari Kalimantan Selatan.